Meningkatkan Daya Saing Batik Melalui Desain

Jul 28th, 2010 | By galeriukm | Category: News

Batik merupakan produk asli Indonesia yang menjadi simbol kebanggaan bangsa. Tak heran jika bisnis batik diharapkan menjadi unggulan produk bisnis Indonesia. Tidak hanya menjadi produk yang menguasai tanah air tetapi juga Luar negeri. Produsen Batik di Indonesia sendiri sangat beragam dari pengusaha besar hingga usaha kecil dan menengah, serta industri batik rumahan. Batik selain sekedar kain juga memiliki nilai seni dan artistik yang tinggi oleh sebab itu untuk meningkatkan daya saing pengrajin batik perlu peningkatan kualitas desainnya.

Karya Seni Batik, Foto verongallery.com

Hal tersebut dikatakan Lutfie Canie pemilik Fashion dan Azio Jakarta yang Pada awal Juli 2010 lalu mengikuti pameran bersama beberapa perajin dan pelaku usaha kecil menengah (UKM) batik Indonesia di Istambul,Turki. Meski transaksi cukup tinggi, dia menyarankan agar perajin maupun pelaku usaha mempertimbangkan kekuatan komoditasnya. Jika ingin bersaing dengan Turki ,Batik Indonesia masih perlu perjuangan optimal untuk memasukinegara tersebut sebab desain Batik disana masih lebih tinggi dibandingkan Indonesia.

Lutfi Canie, pemilik rumah fashion dan desain Azio di Jakarta, mengemukakan jika Indonesia ingin masuk pasar Turki melalui produk batik, yang harus diperkuat adalah desain maupun pewarnaannya agar lebih selaras dengan kultur negeri itu.
“Kalau kita mau mengunggulkan produk batik, tenun, maupun buatan tangan, nilai karya seni mereka masih lebih tinggi diban-dingkan Indonesia. Kalau kita memasarkan batik lembaran, mereka justru tidak tertarik,” katanya kepada Bisnis, kemarin.

Kekuatan tersebut dari sisi desain maupun pewarnaan. Sebab, batik bagi masyarakat Turki, khususnya di kota Istanbul, belum dikenal secara detail tentang komoditasnya. Baik yang dihasilkan secara manual maupun industri mesin.
Karena itu Luh imenyarankanjika pelaku UKM Indonesia ingin menjadikan Turki menjadi pasar produk batik maupun garmen lain, supaya memahami lebih dulu kultur Turki.

“Saya sarankan, jangan pernah membawa batik lembaran untuk dipasarkan di sana.” Berdasarkan diskusi yang dilakukannya dengan beberapa desainer Turki, disarankan agar harus memahami desain yang digemari masyarakat di sana. Dengan demikian, pemasaran komoditas batik bisa diterima oleh masyarakatnya.
Prijadi Atmadja, Asisten Deputi Urusan Ekspor dan Impor Kementerian Koperasi dan UKM membenarkan argumentasi yang disampaikan Lutfi, bahwa pemasaran batik ke Turki masih perluperjuangan ekstra.

“Kalau kita bicara tentang kain tenun misalnya, hasil tenunan mereka jauh iebih bagus dibandingkan dengan tenun yang dihasilkan perajin UKM kita. Tenunan Pasmina mereka, misalnya, lebih dulu dikenal dunia internasional.”
Adapun penyesuaian yang harus dilakukan, a.l. penggunaan warna pada batik. Sebab, batik Indonesia cenderung dengan dominasi warna cokelat, sedangkan produksi garmen Turki sangat berwarna.

Untuk membandingkan tingginya nilai seni Turki,kata Prijadi, bisa dibandingkan dengan seni keramik negara lain, termasuk Indonesia. Seni keramik yang dimiliki Turki sudah dikenal secara internasional.(Galeriukm).

Sumber:

http://www.depkop.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=385:tembus-pasar-turki-desain-batik-harus-diperkuat&catid=50:bind-berita&Itemid=97

Related posts:

  1. Strategi Pemasaran Melalui Kemasan
  2. Desain Pemasaran Usaha Kecil
  3. Membuka Peluang Bisnis Melalui Internet
  4. Strategi Pemasaran Melalui Referal dan Endorsement




Tags: , ,

Leave Comment






Economics Blogs - BlogCatalog Blog Directory