Apr 4th, 2010

Bisnis Besi Tua Yang Menghidupi

By -- Category: Profil Usaha

RUMAH bercat putih berlantai dua di Jalan Raya Asem Rowo, Surabaya, itu tampak menonjol. Maklum, lingkungan sekitarnya terlihat kumuh dan kotor, dengan rumah-rumah yang kecil dan sempit. Sementara di halaman rumah bercat putih itu beberapa truk terlihat bisa parkir seenaknya. Di samping kanan rumah ada garasi, tempat dua truk kelihatan sedang diperbaiki.

Rumah besar itu adalah kediaman Haji Mataji, 50 tahun, pengusaha besi tua di pasar loak Surabaya. Pria kelahiran Desa Omben, Sampang, Madura, ini adalah salah satu pengepul –pengusaha pengumpul besi tua– terbesar di Surabaya. Dari tiga lokasi pengumpulan besi tua miliknya, setiap hari Mataji memindahkan rata-rata 200 ton besi ke beberapa pabrik pelebur baja di Surabaya.

Saking suksesnya, kini tak kurang dari 125 karyawan menggantungkan hidup pada usaha pengumpulan besi tua yang dijalankan Haji Mataji. Dari para pemasoknya, Mataji membeli besi tua Rp 650 per kilo. Sedangkan ke pabrik-pabrik yang dipasoknya, ia bisa menjual barang yang sama dengan harga Rp 800 per kilo. Tinggal dihitung berapa besar keuntungan yang masuk kantong Pak Haji setiap hari.

Laki-laki yang tak tamat sekolah dasar ini memulai perjuangannya pada 1965. Ketika itu, pada usia 16 tahun, Mataji meninggalkan Pulau Madura untuk mengadu nasib ke Surabaya. ”Ketika itu, saya sama sekali tak punya apa-apa,” kata anak petani miskin ini. Maka, pada saat-saat awal menjadi penduduk kota Surabaya, Mataji harus rela tinggal di sebuah kamar kos sempit di Dupak Jaya Gang VI.

Tetapi, mungkin sudah jodoh, sejak awal Mataji telah terjun ke bisnis besi tua. Ketika itu, berbasis di Jalan Demak –yang masih termasuk kompleks pasar loak Surabaya– Mataji mulai menerima penjualan besi tua dari para pemulung. Dengan modal seadanya, ia menyalurkan besi-besi tua itu ke pabrik pelebur baja. ”Omset saya paling tinggi ratusan ribu rupiah,” kata Mataji.

Kerja mengumpulkan besi kecil-kecilan itu dilakoninya hingga lima tahun. Tapi, pada 1970, peruntungan Mataji berubah. Tahun itu, ia diberi kepercayaan oleh kenalannya yang bekerja di sebuah pabrik peleburan baja untuk memasok besi baja bagi pabrik itu. Ibarat memperoleh durian runtuh, Mataji diberi pinjaman modal Rp 50 juta.

”Pada masa itu, mencari besi tua tak semudah sekarang,” Mataji mengenang. Toh, dengan modal pinjaman dari kenalannya itu, Mataji mampu memasok 20 ton besi tua setiap pekan. Sejak itulah, reputasi Mataji sebagai pengepul besi tua makin berkilau. Pada 1984, ketika merasa pengalamannya telah cukup, Mataji memformalkan usahanya dengan mendirikan PT Logam Jaya.

Lewat perusahaan baru ini, Mataji berhasil mempertahankan reputasi. Walaupun pengusaha besi tua lain terus tumbuh di pasar loak Surabaya, Mataji bisa bertahan. Hingga kini, ia mengaku tak pernah mengalami kesulitan mengumpulkan dan memasok besi tua. Pabrik-pabrik baja besar, seperti PT Hanil Metal Work dan PT Ispar Indo Surabaya, pun selalu mengandalkan pasokan besi dari Mataji.

Simbol sukses Mataji yang paling jelas terwujud pada empat rumah mewah yang dimilikinya. Sementara itu, bisik-bisik di kalangan dekatnya malah menyebut Mataji sudah berani menikah lagi. Konon, kini ia memiliki empat istri. Tapi, kepada Gatra, Mataji menyatakan bahwa isu itu cuma isapan jempol. ”Ah, istri saya cuma satu, kok,” katanya sambil tertawa lebar.

Selain berbisnis besi tua, Mataji melebarkan bidang garapan PT Logam Jaya. Perusahaannya itu kini mengomersialkan 50 unit truk milik Mataji untuk melayani kebutuhan angkutan barang trayek Jawa-Bali. Toh, kendati telah menjadi jutawan, penampilan Mataji tak berubah. Topi koboi dan kemeja ”berantakan” selalu menjadi bagian dari penampilan Mataji sehari-hari.

Setiap hari, Mataji selalu duduk lesehan di tanah menyaksikan para karyawannya bekerja. Ia tak segan ikut main kartu dengan anak buahnya. Cara berbisnis Mataji pun tak berubah sejak puluhan tahun lalu. Kepada para pemasok besi tua yang datang, ia selalu membayar dengan uang kontan. Termasuk juga kepada pemulung kecil yang menjual besi senilai puluhan ribu rupiah.

Untuk kendaraan sehari-hari, Mataji tak mau bermanja-manja dengan memilih kendaraan baru. Ia merasa cukup mengendarai sebuah jip Toyota berusia belasan tahun. Cerita sukses pengusaha besi tua pasar loak Surabaya tak hanya tercermin dari kisah Haji Mataji. Asmuri, 38 tahun, dan Maksum, 43 tahun, pemilik UD Sahabat, juga termasuk pengepul yang terbilang sukses.

Usaha jual-beli besi tua digeluti pasangan ini sejak 1988. Ketika itu, Asmuri dan sahabatnya, Maksum, merintis usaha dengan modal Rp 4 juta. Masing-masing menginvestasikan Rp 2 juta. Untuk mengumpulkan uang sebanyak itu, Asmuri terpaksa membongkar seluruh isi tabungan, hasil usahanya berjualan ayam selama beberapa tahun.

Pasangan Asmuri-Maksum memulai usahanya dengan membeli sebuah kios kecil di kawasan pasar loak Surabaya, tepatnya di Jalan Dupak Rukun. Awalnya mereka mengumpulkan besi tua berbagai ukuran dari sumber mana pun. ”Kebanyakan kami mendapat besi tua setelah berburu mencari pabrik-pabrik yang gulung tikar, atau kapal yang sudah tak berfungsi,” kata Maksum.

Maksum punya kiat unik. Ia rajin mendatangi balai lelang di Jalan Raya Demak, tak jauh dari pasar loak Surabaya. ”Dari dulu banyak kantor yang melelang barang dari besi,” katanya. Menurut Maksum, semua barang berat yang terbuat dari besi dapat dijualnya kembali. Saking lancarnya usaha berdagang besi bekas ini, Maksum dan Asmuri tak mau mengambil untung besar.

”Untung Rp 500 pun sudah cukup,” kata Asmuri. Maklum, menurut Asmuri, banyak pembeli memborong dalam partai besar. ”Terlebih jika pembelinya dari luar negeri. Bisa ratusan ton,” katanya. Rata-rata setiap hari, Asmuri paling tidak bisa mengantongi Rp 10 juta. Tapi, sejak situasi politik di Jakarta makin panas, rezeki dari penjualan besi tua ternyata juga terpengaruh.

”Kalau Jakarta tidak tenang, barang dagangan kita tak laku,” kata Asmuri. Setelah berdagang besi tua cukup lama, Asmuri dan Maksum memang sama-sama percaya bahwa laku atau tidaknya besi tua benar-benar tergantung musim. ”Termasuk musim situasi ekonomi dan politik,” kata Asmuri. ”Misalnya, kalau dolar naik, besi juga naik, persis harga emas.”

Beberapa bulan belakangan, UD Sahabat ternyata mengalami musim tak laku yang cukup menggusarkan Asmuri dan Maksum. ”Hari ini kami hanya dapat satu pembeli,” kata Asmuri, ketika ditemui Gatra, awal Juni lalu. Maksum menambahkan bahwa perusahaannya pernah satu pekan tak kedatangan pembeli. ”Kalau kondisi terus seperti sekarang, kami bisa tak punya keuntungan,” katanya.

Sumber:

http://www.gatra.com/artikel.php?id=7600

Related posts:

  1. Kerajinan Bros Sisik Ikan Yang Membawa Berkah


Popularity : 4,958 views

Tags: , ,

Leave Comment