Aug 8th, 2010

Bisnis Kambing Jawarandu Berpeluang Eksport

By -- Category: Peternakan

Istilah Kambing Jawarandu mungkin kalah poluler dengan Kambing Etawa atau kambing PE, namun bisnis kambing Jawarandu ternyata sangat potensial untuk eksport ke Luar negeri. Sasaran eksport kambing Jawarandu adalah Malaysia, Laos, Thailand dan beberapa negara ASEAN lainnya. Kambing Jawarandu sebenarnya merupakan persilangan Kambing PE(peranakan Etawa) dan Kambing kacang, yang merupakan kambing lokal Indonesia.

Dalam bahasa sehari-hari Kambing Jawarandu lebih dikenal dengan beberapa istilah antara lain kambing Bligon, Gumbolo, Koplo dan Kacukan. Usaha ternak Kambing Jawarandu ditujukan untuk keperluan pemenuhan kebutuhan daging kambing.Berbeda dengan kambing etawa/PE yang dimanfaatkan daging maupun susu kambingnya. Meski ukurannya lebih kecil dibandingkan kambing PE potensi bisnis yang dihasilkan tidak kalah dengan kambing Etawa.
Salah satu eksportir kambing Jawarandu ini adalah Jonny Vito, pemilik CV Marlin Brothers di Kemirikebo, Turi, Jogjakarta. Sejak tahun 2003 ia mengekspor kambing Jawarandu usia setahun ke Malaysia.

Kambing Jawarandu

Kambing Jawarandu, Foto Infoternak

Menurut Jonny, permintaan Malaysia akan kambing Jawarandu miliknya mencapai 1.000 ekor per bulan jika sedang ramai. Kalau sedang sepi, paling hanya sekitar 300 ekor sampai 500 ekor saja per bulan. “Karena sudah membentuk kelompok peternakan, kalau ada permintaan yang mendadak banyak, tinggal ambil ke beberapa peternak lain,” lanjut Jonny.

Satu ekor kambing Jawarandu di pasaran harganya antara Rp 400.000 sampai Rp 600.000. Dari harga tersebut, bisa dijual di Malaysia seharga 450 RM atau sekitar Rp 1,35 juta per ekor. Jika, Jonny mampu mengirim 1000 kambing per bulan, artinya Jonny mampu meraup omzet Rp 1,35 miliar per bulan.

Namun, dari harga tersebut, cost operasional pengiriman sudah mencapai Rp 300.000. “Belum lagi banyak kambing yang mati ketika sampai disana, itu membuat margin usaha pengiriman kambing drastis berkurang,” ujar Jonny.

Sayang, mulai tahun 2008 beberapa importir liar di sekitar Sumatra mulai merusak harga pasar. Pasalnya, para importir liar tersebut menjual kambing ettawa dan Jawarandu dengan harga miring. Akibatnya, “Sampai detik ini Malaysia pun sudah menghentikan impor kambing ettawa,” lanjut Jonny.

Sementara menunggu membaiknya pasar ekspor kambing Jawarandu, Jonny kini menggarap pasar lokal. “Saat ini banyak permintaan dari pemerintah daerah seperti Sulawesi, Palu, Mataram dan Sumatra,” ujarnya. Sayang, proses pengadaan kambing oleh beberapa pemerintah daerah tersebut harus menunggu proses tender yang lama dan lumayan berbelit.(Galeriukm).

Sumber:
Kontan

No related posts.


Popularity : 4,202 views

Tags: ,

Leave Comment